Mitos dan Fakta, Amankah Konsumsi Telur pada Bayi?

 Saat bayi memasuki usia 6 bulan, si buah hati sudah siap diberi makanan padat. Bayi boleh saja diperkenalkan dengan telur. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu dipahami Moms.

Amankan Konsumsi Telur pada Bayi?

Makanan Padat Pendamping (MP) ASI pada usia ini perlu diberikan. Di antaranya zat besi dan DHA untuk perkembangan otak baby. Salah satu sumber zat besi dan DHA terdapat dalam kuning telur.

Telur merupakan makanan padat gizi yang semua zat gizinya hampir mendekati keseimbangan sempurna. Telur adalah sumber energi dan zat gizi penting yang sangat baik. Kaya protein lengkap, vitamin dan mineral.

Telur juga mengandung kolin tinggi, untuk melindungi ingatan pada orang dewasa dan sangat penting untuk perkembangan otak jain.

Tekstur kuning telur sangat pas untuk baby. Kuning telur-lah yang disarankan untk diperkenalkan terlebih dahulu daripada putih telur. Putih telor diberikan pada baby usia setahun lebih, seiring dengan menguatnya sistem pertahanan tubuhnya.

Ada banyak mitos yang beredar di masyarakat soal konsumsi telur. Berikut ini fakta ilmiahnya.

Mitos:

Kuning telur tidak bagus buat baby, apalagi baby memiliki riwayat alergi pada telur?

Fakta:

Baby dan anak-anak sangat sensitif terhadap penyakit bawaan makanan. Telur merupakan makanan yang dapat memicu reaksi esktrem, seperti alergi.

Riset yang ditulis di Journal of Allergy & Clinical Immunology (2010), baby usia 6 bulan tidak masalah bila diberi telur. Faktanya telur tidak meningkatkan alergi telur. Yang Moms perlu pastikan adalah telur dalam kondisi matang saat disajikan.

shutterstock_241423447

 

Mitos:

Telur ayam kampung lebih baik untuk anak dari telur ayam ras

Fakta:

Dari sisi komposisi energi dan zat gizi, telur ayam kampung lebih tinggi dari pada telur ayam ras. Disarankan gunakan telur ayam kampung untuk baby Anda.

 

Telur

Mitos:

Telur tidak bagus diberikan pada baby 6 bulan. Sebaiknya diberikan saat baby lebih dari setahun.

Fakta:

Zat penting yang diperlukan balita adalah protein. Senyawa organik ini merupakan salah satu sumber energi penting selain karbohidrat dan lemak. Sumber protein hewani penting untuk baby di antaranya berasal dari daging, hati, telor, dan susu. Moms bisa memberikan bermacam variasi alternatif menu agar balita tidak bosan.

 

Telur 2Mitos:

Makan telur menyebabkan bisul pada anak, jika dikonsumsi setiap hari.

Fakta:

Ini terjadi pada anak yang memang alergi terhadap telur. Eksem akibat alergi telur dapat menimbulkan komplikasi infeksi oleh bakteri Staphylococcus aureus penyebab bisul. Kuning telur memberikan gizi lebih tinggi daripada putih telur. Protein dalam putih telur bersifat antigen sehingga memunculkan alergi.

 

Mitos:

Makan telur tidak boleh 2 kali sehari.

Fakta:

Pada Moms dan bayi sehat, konsumsi 2 telor sehari tidak meningkatkan kadar kolesterol darah, gangguan penyakit kardiovascular, dan gangguan fungsi endotel. Pada Moms yang berisiko diabetes tipe 2, berpeluang meningkatkan kadar kolesterol LDL darah.

Untuk balita yang ada dalam masa pertumbuhan, mengonsumsi telur sehari satu butir merupakan jaminan untuk mendapatkan intake yang baik untk menopang pertumbuhan fisik dan kecerdasan.

 

Mitos:

Balita dan Moms tidak masalah bila menyantap telur setengah matang.

Fakta:

Telur belum matang atau masih setengah matang terdapat avidin dan streptavidin yang dapat mengikat zat besi dan vitamin B biotin dalam saluran pencernaan, sehingga mencegah penyerapannya.

Biotin bersama dengan vitamin B lain berperan dalam pelepasan energi dari karbohidrat, lemak dan protein. Avidin dan streptavidin dapat di-denaturasi dengan pemasakan. Jadi disarankan, lakukan pemasakan sempurna pada telor.

 

 

 

 

Reply

12 − eleven =